Beranda | Artikel
Mengapa Allah Mengujimu?
11 jam lalu

Ujian, musibah, dan kesulitan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari ujian, baik ia seorang mukmin maupun bukan, kaya maupun miskin, tua maupun muda. Sayangnya, banyak orang memahami ujian dengan cara yang keliru. Mereka menganggap ujian sebagai tanda Allah Ta’ala membenci mereka, atau sebagai hukuman yang tidak adil. Padahal, di balik setiap ujian yang Allah tetapkan, tersimpan hikmah yang sangat besar dan jalan menuju derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Allah Ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’an bukan hanya bacaan yang mendatangkan pahala, tetapi juga syifa’ (penawar) bagi segala penyakit hati, termasuk kecemasan, kesedihan, dan kegelisahan yang muncul saat ujian datang.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)

Membekali diri

Allah Ta’ala tidak membiarkan hamba-Nya terkejut dan panik ketika ujian datang. Sebelum ujian itu tiba, Allah telah mengumumkannya berkali-kali di dalam Al-Qur’an. Bahkan, Allah memulai firman-Nya dengan sumpah yang menegaskan kepastian ujian tersebut. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ikhwah fillah, mari kita perhatikan kata lanabluwannakum yang menunjukkan sumpah Allah Ta’ala ini. Bahwa ujian akan menimpa setiap manusia. Allah memberitahukan hal ini agar kita selalu siap dan tidak terkejut ketika ujian benar-benar terjadi. Sebagaimana seorang guru yang mengumumkan ujian seminggu sebelumnya, maka murid-muridnya akan mempersiapkan diri dengan baik. Demikian pula seorang mukmin, ia harus selalu siap menghadapi ujian dengan iman, sabar, dan doa.

Ujian yang Allah sebutkan dalam ayat ini mencakup lima kategori, yaitu: rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan kekurangan buah-buahan atau rezeki. Tidak ada kategori keenam. Semua musibah yang terjadi dalam hidup manusia—baik besar maupun kecil—pasti masuk dalam salah satu dari lima kategori ini. Maka, ketika seorang mukmin ditimpa salah satunya, ia tidak perlu merasa bahwa dirinya sedang dihukum atau ditinggalkan Allah. Justru, itulah saatnya ia menunjukkan kualitas imannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berat ringannya ujian seseorang sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat iman seseorang, semakin berat ujian yang akan dihadapinya. Sebaliknya, jika imannya lemah, ujiannya akan disesuaikan dengan kadar imannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُبْتَلَى عَلَى قَدْرِ إِيمَانِهِ، فَإِنْ كَانَ إِيمَانُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي إِيمَانِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى قَدْرِ إِيمَانِهِ

“Sesungguhnya seseorang benar-benar diuji sesuai kadar imannya. Jika imannya kuat, maka ujiannya berat; jika imannya lemah, maka ia diuji sesuai kadar imannya.” (HR. Ibnu Majah no. 4023, disahihkan oleh Al-Albani)

Ikhwah fillah. Parhatikanlah! Hadis ini memberikan kabar gembira sekaligus peringatan. Kabar gembiranya adalah, jika ujian terasa berat, itu pertanda iman kita sedang kuat dan Allah ingin mengangkat derajat kita. Peringatannya adalah, jangan sampai kita menjadi lemah dan mengeluh, karena itu hanya akan menambah beban tanpa mendatangkan pahala. Allah juga menegaskan bahwa Dia tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kesanggupannya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Maka, ketika ujian datang, yakinlah bahwa kita mampu melewatinya dengan pertolongan Allah. Ujian itu bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih dekat kepada Allah, dan lebih siap meraih surga-Nya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memberinya ujian.” (HR. Bukhari no. 5645)

Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia

Jangan berkata “seandainya”

Ketika ujian datang, manusia dapat menyikapinya dengan salah satu dari empat sikap. Sikap pertama adalah marah dan tidak rida kepada Allah. Sikap ini haram dan hanya akan menambah dosa serta menghapus pahala. Sikap kedua adalah sabar, yaitu menahan diri dari keluh kesah dan tetap menjalankan kewajiban. Sabar dalam menghadapi ujian hukumnya wajib. Sikap ketiga adalah rida, yaitu menerima ujian dengan lapang dada, tidak merasa keberatan, dan melihat ada atau tidaknya ujian itu sama saja di hadapan Allah. Sikap keempat adalah syukur, yaitu berterima kasih kepada Allah atas ujian yang menimpa, karena yakin bahwa di baliknya ada kebaikan yang besar. Inilah tingkatan tertinggi yang hanya dapat dicapai oleh hamba-hamba yang hatinya dipenuhi cahaya iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Dan sabar adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223)

Salah satu kunci untuk bisa sabar dan rida adalah dengan tidak mengatakan “seandainya“. Ketika musibah terjadi, banyak orang berkata, “Seandainya aku tidak pergi ke sana,” atau “Seandainya aku melakukan ini, pasti tidak akan terjadi.” Ucapan seperti ini dilarang karena membuka pintu setan dan melemahkan iman kepada takdir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkan; dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ membuka amal setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Ucapan yang benar ketika musibah menimpa adalah “Qaddarallahu wa maa sya’a fa’ala”—Allah telah menakdirkan; dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Dengan ucapan ini, hati menjadi tenang karena yakin bahwa apa yang menimpa kita tidak akan pernah meleset; dan apa yang ditakdirkan tidak menimpa kita, tidak akan pernah mengenai kita. Inilah hakikat iman kepada takdir. Barangsiapa yang meyakini hal ini, ia sedang berada di jalan kesabaran. Dan barangsiapa yang masih saja berkata “seandainya”, maka imannya kepada takdir perlu diperbaiki.

Untuk mencapai tingkat alhamdulillah—bersyukur kepada Allah atas ujian—kita perlu melatih pandangan kita. Jangan fokus pada apa yang hilang, tetapi fokuslah pada apa yang masih tersisa. Jika Allah mengambil satu anggota tubuh, lihatlah anggota tubuh lain yang masih berfungsi. Jika Allah mengambil satu anak, lihatlah anak-anak lain yang masih ada. Jika Allah mengurangi harta, lihatlah kesehatan, keluarga, dan nikmat iman yang masih melekat. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.`” (QS. Al-Baqarah: 156)

Ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukan hanya untuk kematian, tetapi untuk setiap musibah. Maknanya sangat dalam, bahwa kita milik Allah, maka Allah berhak melakukan apa saja terhadap milik-Nya dengan ilmu, hikmah, dan tanpa kezaliman. Dan kita akan kembali kepada-Nya untuk menerima pahala atas kesabaran kita. Dengan memahami makna ini, hati akan tenang dan lisan akan terjaga dari keluh kesah. Inilah pondasi sabar yang sejati.

Pahala tanpa batas

Setelah Allah menyebutkan ujian yang menakutkan, Dia mengakhiri ayat dengan kabar gembira. Allah Ta’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Orang-orang yang sabar akan mendapatkan shalawat dari Allah, yaitu pujian dan penyebutan nama mereka di hadapan para malaikat mulia. Mereka juga mendapatkan rahmat yang akan menghilangkan kesulitan dan mendatangkan pertolongan. Dan mereka mendapat petunjuk dalam setiap langkah, ucapan, dan keputusan. Inilah balasan yang sangat besar bagi orang yang bersabar. Bahkan, pahala mereka tidak terbatas. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Selain pahala tanpa batas, Allah juga menjanjikan pengganti yang lebih baik bagi siapa saja yang mengucapkan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa itu adalah,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu mengucapkan apa yang Allah perintahkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma’jurni fi musibati wa akhlif li khairan minha’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya), kecuali Allah akan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 918)

Hadis ini dibuktikan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ketika suaminya, Abu Salamah, wafat, ia mengucapkan doa tersebut. Awalnya ia berkata, “Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?” Namun, karena ia yakin dengan janji Nabi, ia tetap mengucapkannya. Allah kemudian menggantikan Abu Salamah dengan seorang suami yang jauh lebih baik, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Ummu Salamah pun menjadi salah satu Ummahatul Mukminin.

Setiap ujian juga menjadi sarana penghapus dosa dan pengangkat derajat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan duka, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)

Bahkan, besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Allah menguji hamba yang dicintai-Nya untuk mengangkat derajat mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barangsiapa rida, baginya keridaan Allah; dan barangsiapa marah, baginya kemarahan Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2396, Ibnu Majah no. 4031; dihasankan oleh Al-Albani)

Tanda kecintaan Allah

Ikhwah fillah, ujian adalah bagian dari kehidupan yang telah Allah umumkan jauh sebelum ia datang. Allah menguji kita bukan pula pertanda bahwa Allah membenci kita, melainkan tanda kecintaan dan kehendak baik Allah kepada hamba-Nya. Setiap ujian yang menimpa seorang mukmin—baik berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, maupun rezeki—adalah kesempatan untuk meraih pahala yang tidak terbatas, penggantian yang lebih baik, dan derajat yang tinggi di surga. Kunci utamanya adalah sabar, rida, dan syukur, serta menjauhi ucapan “seandainya” yang hanya membuka pintu setan.

Maka, ketika ujian datang, janganlah melihatnya sebagai kerugian. Bagi seorang mukmin, setiap kerugian di dunia adalah keuntungan di akhirat. Ucapkanlah Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu iringi dengan doa Allahumma’jurni fi musibati wa akhlif li khairan minha. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, dan Dia selalu bersama orang-orang yang sabar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar, rida, dan bersyukur, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca juga: Mengapa Aku Selalu Diuji?

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/117170-mengapa-allah-mengujimu.html